Tampilkan postingan dengan label Fotografi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Fotografi. Tampilkan semua postingan

Minggu, 08 Desember 2013

Teknik fotografi memotret sunrise, sunset dan twilight + setting kamera


Memotret sunrise dan sunset (sebenarnya gak ada bedanya dari sisi fotografi, yang beda cuma sunrise lebih dingin dan sepi daripada sunset, dan yang satu terbit dan yang lainnya tenggelam he he he). Persiapan yang dibutuhkan tentunya adalah memeriksa lokasi di hari sebelumnya, arah matahari dan sebagainya. Peralatan utama yang dibutuhkan adalah kamera, tripod, dan senter.

Setelah tiba dilokasi, hal yang pertama dilakukan tentunya mencari lokasi yang bagus dan aman untuk memotret. Setelah ketemu, baru pasang kamera di tripod. Kalau bisa jangan kebalikannya, kalau keburu pasang tripod dulu biasanya kita sudah malas bergerak mencari posisi yang lebih bagus.





Mode dan setting exposure kamera


Mode kamera yang saya gunakan adalah mode manual (M). Pastikan AUTO ISO dalam kondisi OFF. Rugi dong, kalau ternyata AUTO ISO kamera memilih ISO yang terlampau tinggi karena mendeteksi pencahayaan yang gak begitu terang. Setelah itu saya akan set ISO rendah, sekitar 100/200 (tergantung kamera masing-masing). Dengan ISO rendah, kualitas fotonya paling bagus :)

Bukaan favorit saya adalah sekitar f/8 sampai f/16.  Dengan bukaan yang relatif kecil, ruang tajam menjadi besar dan pemandangan yang luas bisa tajam semua. Setelah itu, saya tinggal atur shutter speed sampai lightmeter jatuh di titik nol saat saya menekan setengah tombol shutter/jepret. Biasanya shutter speed akan jatuh lebih lambat dari satu detik sesaat sebelum matahari terbit.


Untuk fokusnya, saya mencoba autofokus, tapi kalau langit masih gelap dan kamera gagal mengunci fokus, saya akan set lensa/kamera ke manual fokus, dan mengunakan live view (komposisi dengan layar LCD) dan kemudian mencari fokus dengan memutar barrel fokus di lensa.

Lalu saya akan mengambil test shot, kalau terlalu terang atau gelap, saya akan ganti nilai shutter speednya supaya hasilnya sesuai keinginan saya. Asyiknya kamera digital jaman sekarang memberikan hasil foto langsung di layar LCD jadi tidak ada salahnya mencoba-coba setting yang berbeda-beda.

Idealnya mengunakan self-timer atau exposure delay supaya saat kita menekan tombol shutter, kamera tidak goyang dan hasil foto tajam. Remote dan cable release, dua aksesoris pembantu dapat membantu.


Kalau pemandangannya mencakupi sesuatu yang bergerak, contohnya ada orang seperti nelayan, fotografer, satwa, dll, maka shutter speednya gak boleh terlalu lambat (lebih dari satu detik) karena subjek yang bergerak itu akan tidak tajam. Kalau bisa, kita gunakan shutter speed cukup cepat, contohnya 1/15 detik atau kalau bisa 1/100 detik lebih ideal lagi. Untuk mendapatkan shutter speed cepat tanpa membuat hasil foto gelap, naikkan nilai ISOnya.

Filter atau tidak?


Filter seperti GND (graduated neutral density) biasanya digunakan untuk menyeimbangkan pencahayaan langit dan bumi saat sunset dan sunrise. Saya sendiri sukanya tidak mengunakan filter GND dan membiarkan bagian foreground gelap/siluet. Supaya kesannya lebih alami dan bentuk-bentuknya lebih menonjol. Alasan lain adalah tanah di tepi danau itu kotor, banyak sampah plastik bekas turis :( Dan alasan lainnya, filter GND repot dipasang dan yang berkualitas tinggi cukup mahal dan mudah rusak.

Alternatif lain jika ingin langit dan buminya seimbang yaitu mengaktifkan fitur yang dinamakan Active D Lighting (Nikon), Auto lighting optimizer (Canon). Ada juga kamera yang kini memiliki fitur Built-in HDR. Saat fitur ini aktif, kamera akan otomatis membuat dua gambar dan menggabungkannya langsung menjadi satu.


Cara lainnya yaitu membuat dua atau lebih dari dua foto yang terang gelapnya berbeda-beda lalu menggabungkannya dengan software pengolah HDR seperti Photomatix atau Photoshop CS. Saat mengunakan teknik HDR, kita wajib mengunakan tripod supaya foto akhir tidak berbayang dua.

Keterangan foto di atas


Foto diatas saya buat saat tur fotografi di daerah Pangalengan, Jawa Barat. Pagi-pagi sekitar jam 5.30 WIB. Saat ini biasanya disebut twilight hour / blue hour, menjelang matahari terbit. Secara komposisi saya mencoba membuat komposisi yang seimbang dengan adanya dua pohon disebelah kiri dan kanan. Siluet fotografer dan perahu diseimbangkan dengan dua perahu di sebelah kanan. Lensa lebar digunakan untuk membuat kesan luas berdimensi.

ISO 200, f/8, 1/2 detik, 16mm, kamera full frame (10mm untuk kamera bersensor APS-C), krop dengan aspek rasio 16:9

Saya mengunakan ISO 200 supaya saya bisa mendapatkan shutter speed 1/2 detik, cukup supaya orang-orang ditepi danau tidak blur, dan kualitas foto masih terjaga.

Keterangan foto dibawah

Foto dibawah kondisi sudah sangat gelap karena matahari sudah tenggelam sekitar jam 18.15. Untuk membekukan gerakan nelayan yang sedang menjala ikan, saya mau gak mau harus pakai shutter speed tinggi. Caranya saya naikkan ISO ke 6400 kemudian gunakan bukaan terbesar, yaitu f/1.4. dan dari dua setting tersebut, saya mendapatkan shutter speed 1/125 detik. Lumayan untuk membekukan subjek foto.

Selain nelayan, saya memasukkan elemen foreground yaitu pohon di tepi waduk Jatiluhur. Lampu-lampu kuning dan refleksinya dari seberang waduk yang memberikan efek visual tambahan yang menurut saya cukup menarik.

ISO 6400, f/1.4, 1/125 detik, 85mm (di full frame, kira-kira 60mm di sensor APS-C), krop dengan aspek rasio 16:9





Sekian dan terima kasih atas kunjunganny....

 

 


Foto yang bagus, yang seperti apa?


Kalau kita berusaha membuat foto yang lebih bagus, tentunya kita harus tahu dulu dong, foto yang bagus itu seperti apa.

Menurut saya, foto yang ‘dibilang’ bagus itu ada dua jenis:

- Bagus secara teknis. Foto yang bagus secara teknis ini mengikuti teori-teori fotografi; misalnya exposurenya pas, ketajaman cukup, white balance yang benar, dan sebagainya.

- Bagus secara estetis. Foto yang bagus secara estetis ini ya pokoknya yang enak dilihat. Bisa karena keindahannya, bisa karena maknanya, bisa karena hubungan pribadi dengan objeknya, dsb.

Saya cenderung memprioritaskan jenis foto yang kedua: foto yang enak dilihat. Apakah teknis tidak penting? Tentu penting, selama menambah nilai ke estetikanya. Terkadang foto yang tidak tajam pun enak dilihat, bahkan mungkin saja ada foto yang indah justru karena tidak tajam! :-)

Nah, sekarang, faktor-faktor apa sih yang mempengaruhi apakah sebuah foto itu enak dilihat? Menurut saya ada tiga faktor. Saya membahas tiga faktor ini dengan menggunakan analogi masakan, semoga membantu dan tidak malah membingungkan :-)

1. Bahan Mentah

Karena fotografi masih sebatas menangkap ada yang ada di dunia nyata (tidak bisa bikin foto hiu tanpa benar-benar ada hiu, misalnya) tentu saja bahan mentah menjadi faktor yang penting bagi suatu foto.Foto kucing yang lucu punya potensi yang lebih bagus daripada foto kucing borokan. Foto wanita cantik juga punya potensi lebih bagus daripada foto kambing gimbal. Bunga yang tanpa cacat juga akan potensial menghasilkan foto yang lebih bagus daripada bunga yang sudah digigiti serangga.


Karena itu, jika kita ingin meningkatkan kualitas foto, salah satu cara yang bisa diambil adalah dengan meningkatkan kualitas objek foto.

Meningkatkan kualitas objek foto ini sendiri bisa dilakukan dengan berbagai macam cara:

- Mencari tempat dan waktu hunting yang lebih bagus

- Memilih objek yang lebih bagus untuk difoto

- Mengutak-atik scene sehingga lebih bagus (memindahkan pot yang mengganggu, misalnya, atau memindahkan objeknya ke tempat lain yang lightingnya lebih bagus)

2. Bumbu
Oke, kita sudah memilih ‘bahan mentah’ yang bagus untuk difoto. Tapi masih ada ‘bumbu-bumbu’ yang mempengaruhi hasil akhir foto tersebut. Kalau ‘bahan mentah’ bisa diartikan secara kasar sebagai apa yang difoto, ‘bumbu’ ini bisa diartikan secara kasar sebagai cara kita memotretnya. Keputusan-keputusan yang kita ambil, baik secara teknis atau nonteknis, ikut mempengaruhi hasil akhirnya.

Bumbu-bumbu ini misalnya: bokeh, angle, framing dan komposisi, pemilihan focal length lensa, exposure, distorsi, tone, kontras, dsb.

Suatu foto bisa diperbaiki dengan menambah bumbu yang kurang. Suatu foto dengan bahan mentah yang biasa-biasa saja bisa menjadi foto yang bagus dengan bumbu yang bagus pula. Semakin banyak persediaan bumbu di dapur kita, maka kita punya potensi lebih untuk membuat foto yang bagus.

Di sisi lain, seperti juga dalam masakan, tidak berarti makin banyak/variatif bumbunya maka foto akan semakin bagus. Bumbu harus digunakan secukupnya, dalam porsi yang pas dan cocok dengan bahan mentahnya. Ini semua bergantung pada……

3. Resep

 Tertangkap tidak kesan seramnya?


Tujuan kita adalah membuat foto yang bagus dengan sengaja dan konsisten. Karena ada faktor kesengajaan, maka sebaiknya semua keputusan yang kita ambil, baik mengenai bahan mentah ataupun bumbu, dilakukan dengan sengaja dan dengan tujuan memenuhi resep yang ada di bayangan kita.

Apakah kita ingin mengambil foto yang suram? Indah? Agung? Menakutkan?
Bahan mentah dan bumbu-bumbunya tentunya harus cocok untuk mendukung ‘tema’ tersebut.

Sebuah foto bisa menjadi foto yang bagus, walaupun bahan mentah dan bumbunya biasa-biasa saja, karena bahan dan bumbu itu bekerja sama dengan baik. Sebaliknya, foto dengan bahan mentah yang bagus dan bumbu yang bagus juga, bisa jadi foto yang kurang bagus (atau paling tidak: masih bisa diperbagus lagi) karena kurang berpadu dengan kompak.


Antara bahan mentah, bumbu, dan resep ini, tidak ada prioritasnya.

Kita bisa berangkat dari bahan mentah dulu (sedang hunting ke mana, misalnya), lalu memutuskan ingin membuat foto seperti apa dan bagaimana caranya.

Kita bisa berangkat dari resep dulu, ingin membuat foto seperti apa, lalu mencari objek yang pas dan memotretnya dengan cara yang pas pula.

Memang jarang ‘bumbu’ diprioritaskan, tapi bisa jadi ‘bumbu’ ini membatasi bahan mentah dan resep. Misalnya, jika tidak punya lensa tele maka tentu tidak akan memilih untuk memotret burung.

Yang lebih penting adalah: dari foto yang sedang kita amati (baik itu foto kita ataupun foto orang lain), aspek manakah yang berjasa membuat foto itu menjadi sebagus itu, dan aspek manakah yang bisa ditingkatkan untuk membuat foto itu lebih bagus lagi? :-)

Demikian pandangan saya tentang foto yang bagus. Bagaimana menurut Anda? :-)





 

Sabtu, 07 Desember 2013

“Mata” Seorang Fotografer, Setajam Apa?


Dulu saya pernah mengatakan bahwa salah dua aspek menjadi fotografer yang ahli adalah “selera” dan “standard”. Sebelum ini saya sudah membahas selera. Kini saya akan coba membahas standard (niatnya sih awalnya begini, tapi biasanya nanti makin ke belakang makin melebar ke mana-mana. Siap-siap saja :D)

Apa sih yang dimaksud “standard”? Menurut kamus saya, standard di sini maksudnya adalah “seketat apa kriteria suatu foto bisa dibilang bagus”. Dengan kata lain, se”kejam” apa kita menilai suatu foto (tentunya terutama foto kita sendiri! Namanya juga mau jadi jago, foto sendiri dong yang harus ditingkatkan kualitasnya..), seteliti apa kita melihat kelemahan suatu foto, dan seberapa “niat” kita untuk mengejar kesempurnaan dan mengurangi kelemahan-kelemahan di foto kita.

Singkatnya, aspek standard ada dua: seberapa kritis kita menilai foto, dan seberapa niat/berdedikasi kita untuk menghasilkan foto yang memenuhi standar tsb.
Niat dan dedikasi sih jelas ya, tinggal bagaimana kita termotivasi saja. Nah, sekarang coba kita bahas masalah “mata” yang digunakan untuk menilai foto.

Apakah foto ini cukup kontras bagi Anda? Apakah vignettenya cukup rapi? Apakah garis-garis di latar belakang masih miring?

 Sejujurnya, bagi saya sangat sulit untuk menjelaskan lebih detail tentang standard ini. Kenapa? Karena standard ini bukan sesuatu yang diterapkan sendirian, namun diterapkan pada konsep-konsep fotografi (baik secara teknis ataupun seni/estetis) yang digunakan:

- Sudahkah frame lurus? (Atau lebih tepatnya: apakah kemiringannya sudah sesuai yang diinginkan?)

- Apakah background sudah diblur dengan tingkat yang pas? Apakah background tidak mengganggu? Apakah obyek cukup kontras dengan background?

- Apakah warna kulit sudah sesuai keinginan? Apakah mata obyek terlihat sehat (tidak merah, sembab, atau mata panda, misalnya), apakah gigi terlihat putih?

- Apakah ada chromatic aberration? Apakah ada barrel distortion? Apakah ada vignetting (atau lebih tepatnya: apakah tingkat vignettingnya sudah sesuai yang diinginkan)?

- Apakah obyek sudah ditempatkan pada titik yang paling seimbang (baik statis ataupun dinamis) secara komposisi? Apakah tidak ada rasa “sumpek” dalam frame? Apakah tidak ada hal yang diinginkan yang masih bisa di-crop/dibuang dari frame?

Jika otak kiri kita (yang mengenali obyek-obyek foto secara logis) ditidurkan, dan kita melihat foto dengan otak kanan (sebagai warna, garis, pola, kontras, tone, dsb.), apakah citra yang terbentuk sudah enak dilihat? (Di foto bunga di atas, garis kotak-kotak latar belakangnya membuat foto terlalu kaku bagi saya. Jika saja masih ada ruang sisa di sekitar bunga, mungkin akan saya putar 15-20 derajat.)
Sebaliknya, jika otak kanan diacuhkan sejenak, apakah foto menyampaikan pesan yang cukup berbobot? (Foto bunga di atas, misalnya.. Saya suka dengan tonenya, tapi saya merasa foto tersebut hanya seperti “permen”: enak dinikmati, namun tidak ada esensinya.)

Jika saya melihat ke belakang, banyak sekali hal-hal yang dulu tidak saya sadari. Dan melihat foto-foto yang saya ambil/edit dahulu, banyak juga hal-hal yang ingin saya edit ulang karena dengan standar yang sekarang foto tersebut terlihat jelek.

Baru beberapa hari yang lalu saya ditegur orang yang mengatakan bahwa skin tone (warna kulit) model di foto saya terlihat terlalu merah, dan giginya terlihat kurang putih. Wah, ini hal baru! Sebelumnya saya bahkan tidak terpikir untuk memastikan modelnya terlihat kinclong giginya. Skin tone pun, selama tidak kelihatan kartun atau alien, masih oke lah. Sekarang, saya lebih ketat memperhatikan dua hal tersebut. Masuk akal kan? Kita tidak bisa meningkatkan kualitas foto kita di aspek-aspek yang bahkan tidak kita sadari!

Nah, bagaimana cara menaikkan standar ini?

Kritik dari luar

Paling gampang (tapi mungkin agak nyesek) adalah dengan minta kritik dari orang lain, terutama yang punya standard lebih tinggi dari kita, paling tidak di genre/jenis fotografi tertentu. Dari masukan orang lain, mungkin Anda bisa jadi menyadari sesuatu yang tadinya tidak Anda sadari (misalnya: tingkat putihnya gigi), dan/atau meningkatkan standar sehingga jadi lebih kritis (misalnya: warna kulit harus lebih kritis lagi diperhatikan). 

 Mengamati proses kita pribadi menilai/menikmati foto

Saya tidak bisa menekankan seberapa pentingnya bagi fotografer untuk sering melihat-lihat foto orang lain, terutama foto yang sudah banyak diakui orang sebagai foto yang bagus (paling tidak di genre fotogafi yang kita minati). Tentu bukan hanya melihat-lihat sekilas, tapi coba pelankan proses Anda melihat-lihat foto tersebut, atau amati lebih detil reaksi Anda.

Apa yang pertama menarik perhatian Anda? Ke mana kah mata Anda pertama kali tertuju? Setelah itu ke mana? Apa yang terlintas dalam benak Anda saat mata Anda “menjelajahi” foto? Apakah foto tersebut foto yang simpel dan langsung ke intinya, ataukah foto yang menyembunyikan sebuah “kejutan”? Apa yang dipikirkan oleh otak kiri Anda, dan apa yang dilihat oleh otak kanan Anda? 

Satu hal yang mungkin perlu saya ingatkan (terutama jika foto yang Anda lihat adalah foto yang banyak diakui ahli sebagai foto bagus), adalah untuk menahan dorongan untuk “men-judge”. Seringkali, sebagai fotografer, timbul keinginan untuk menilai sang fotografer. “Oh, ininya kurang begini nih, sedangkan itunya terlalu begitu..” Jika sedang belajar, simpan dulu saja penilaian tersebut. Yang penting, amati bagaimana reaksi kita terhadap foto tersebut, dan apa saja yang kita sukai (dan tidak sukai).

Eksperimen

Terutama jika Anda menggunakan kamera digital, hampir tidak ada biaya yang dikeluarkan jika Anda memotret satu obyek lebih dari satu (atau sepuluh) kali. Coba angle baru. Coba misfokus. Coba underexpose, coba overexpose. Coba gunakan manual focus dan sengaja tetapkan fokusnya di belakang obyek. Coba di depan obyek.

Begitu pula saat post-processing/olah digital. Coba B&W. Coba sepia. Coba naikkan kontrasnya. Coba turunkan. Coba bermain dengan tools ini-itu. Coba beri pinggiran/pigura pada foto Anda, apakah berbeda rasanya? dsb dst..

Bukan berarti Anda harus selalu bereksperimen lho ya. Cape juga kalau semua hal harus dicoba ke semua foto/obyek. Yang penting jangan kungkung rasa “iseng” dalam diri Anda, jika ada rasa penasaran dan ingin mencoba hal baru, coba saja!

Meminta saran ke orang lain berarti Anda berkembang dengan mengadopsi standard orang lain (tidak ada salahnya sih). Mengamati respon terhadap foto orang lain berarti mengadopsi standard yang dipicu oleh sesuatu yang sudah dicoba orang lain. Melalui eksperimen lah Anda bisa mengadopsi standard yang belum terpikirkan/dicoba oleh orang lain :)

Pendidikan

Tentu saja, Anda bisa ikut seminar atau kursus atau baca buku.. atau baca blog (gratis :P).

Sekian dulu artikel dari saya. Bagaimana menurut Anda?







Panduan Memilih Lensa Untuk Pemula


Bagi pemula di bidang fotografi, memilih lensa bisa jadi hal yang membingungkan. Banyak sekali istilah yang tertulis sebagai huruf dan angka! Saya sudah menulis artikel sendiri untuk membahas apa arti istilah di lensa, namun hari ini saya ingin mencoba angle lain dan langsung menuliskan rekomendasi lensa apa saja yang layak dipertimbangkan jika akan membeli lensa.

Mengapa saya bilang “dipertimbangkan”? Karena sebenarnya semuanya kembali lagi ke masing-masing fotografer. Lensa kan hanya alat; alat digunakan untuk memenuhi keinginan fotografer. Jadi, sebenarnya semua kembali ke kebutuhan dan gaya memotret Anda: lensa yang cocok bagi Anda dan yang cocok bagi saya mungkin berbeda :)

Panduan di bawah ini dituliskan dengan menggunakan kamera DSLR APS-C sebagai panduannya, tapi konsepnya sih harusnya bisa diterjemahkan ke kamera tipe lain. Silakan menuliskan komentar di bawah artikel jika ada yang kurang jelas :)

Lensa Allround

Yang saya maksudkan sebagai lensa allround adalah lensa yang cukup fleksibel untuk memenuhi kebutuhan fotografi sehari-hari.

Lensa Kit

Jika Anda baru akan membeli kamera, saya sangat merekomendasikan Anda untuk membeli paket/kit bersama lensanya. Harga lensanya lebih murah dibandingkan jika Anda membeli terpisah.

Secara kualitas, saya menyarankan lensa kit 18-55. Lensa ini biasanya mempunyai kualitas yang lebih tinggi dibandingkan lensa kit yang mempunyai rentang lebih jauh, misalnya 18-105, 18-135. (Periksa lagi hasil review masing-masing lensa, agar lebih yakin)
Karena mempunyai rentang lebih tinggi, maka lensa tersebut lebih sulit untuk dibuat, sehingga kualitasnya cenderung lebih jelek. Hal ini biasanya tercermin dalam: ketajaman yang kurang (terutama di focal length yang besar), chromatic aberration yang lebih terlihat (bias warna di sepanjang pinggir obyek foto), dan distorsi cembung yang lebih terlihat di focal length kecil.

Lensa dengan rentang lebih jauh juga harganya relatif lebih mahal, sehingga saya lebih merekomendasikan membeli 18-55 dipadukan dengan lensa zoom tele khusus (akan dibahas di bawah). Tapi hal ini berarti Anda perlu mengganti-ganti lensa. Jika Anda benar-benar membutuhkan rentang focal length yang besar tanpa mengganti lensa, baru layak mempertimbangkan lensa kit dengan rentang yang besar.

Tamron 17-50/2.8

Tamron 17-50/2.8 adalah lensa yang paling banyak digunakan orang untuk meng-upgrade lensa kit mereka. Dengan rentang FL yang relatif sama (dibanding 18-55), ketajaman yang lebih baik, lensa ini ideal untuk menggantikan lensa kit. Selain itu menggunakan lensa ini juga memungkinkan shutter speed yang lebih cepat dan DOF yang lebih sempit (= lebih bokeh). 

Yang banyak dikeluhkan orang dari Tamron ini adalah autofokus yang pelan dan berisik, tone warna yang agak menguning, dan Quality Control dari Tamron yang menghasilkan beberapa lensa bad copy yang misfokus. Saya sarankan untuk mencoba langsung di toko jika ingin membeli lensa Tamron ini.

Lensa ini mempunyai dua varian: dengan VC dan non-VC. Saya sarankan membeli yang non-VC karena mekanisme VCnya dikabarkan agak pelan sehingga malah dapat mengurangi ketajaman.

ika Anda lebih mementingkan tele dibanding wide, dan mempunyai budget lebih, Tamron 28-75/2.8 mungkin bisa lebih memuaskan Anda. Dengan mengorbankan FL 18-28, Anda mendapatkan rentang FL hingga 75mm. :)

Lensa Sapujagad

Yang disebut lensa sapujagad adalah lensa yang mempunyai rentang FL yang sangat tinggi, sehingga dapat digunakan untuk 99% kebutuhan foto. Seperti yang sudah disebutkan di atas, rentang FL yang tinggi mengakibatkan pembuatan lensa ini lebih sulit, dan mungkin ada pengorbanan di bidang kualitas.

Lensa sapujagad yang bisa saya rekomendasikan hanyalah Tamron 18-270 dan Sigma 18-250. Hanya saja, saya akui saya tidak mengikuti hasil review lensa sapujagad masing-masing merk (Canon, Nikon, Sony). Silakan periksa dan bandingkan sendiri.
Sebagai pengingat, saya tidak menyarankan lensa sapujagad ini.

Lensa Bokeh

Yang disebut lensa bokeh adalah lensa dengan aperture max yang cukup besar (angkanya kecil) untuk menimbulkan efek bokeh yang memuaskan. Aperture yang besar ini juga memungkinkan shutter speed yang lebih cepat, sehingga ideal digunakan di kondisi yang gelap.

Saya sarankan lensa 50/1.8. Lensa ini mempunyai harga yang relatif murah di masing-masing merk (kecuali Nikon dan kamera-kamera mirrorless) dan kualitas yang bagus.

Lensa 50/1.8 mempunyai FL yang tergolong short tele jika digunakan di DSLR entry level. Ada beberapa alternatif lain jika Anda menginginkan FL yang lebih spesifik:

- Nikon dan Sony mempunyai lensa 35/1.8 yang lebih wide sehingga lebih mudah digunakan sehari-hari.

- Nikon dan Canon mempunyai lensa 85/1.8 yang lebih ideal untuk digunakan memotret orang/portrait. Sony “hanya” mempunyai 85/2.8.

Lensa Tamron 28-75/2.8 juga bisa digunakan sebagai alternatif jika Anda cukup puas dengan 75/2.8 :)

Lensa Tele

Untuk lensa tele, yang terbaik masih buatan merk masing-masing:

- Canon 55-250

- Sony 55-200 (atau Minolta 70-210 atau 100-200 atau 75-300)

- Nikon 55-200 atau 55-300

Yang perlu diperhatikan dari lensa tele adalah keberadaan fitur Image Stabilization (jika di Canon) atau Vibration Reduction (di Nikon), untuk mengurangi kecenderungan foto yang blurry karena kameranya goyang. Sony (selain NEX) dan Pentax tidak membutuhkan fitur ini di lensa, karena sudah menggunakan image stabilization di kamera. Maka (misalnya) Tamron 70-300 (yang tidak mempunyai fitur VC/IS/VR) akan lebih recommended jika Anda menggunakan Pentax atau Sony, daripada jika Anda menggunakan Canon atau Nikon.

Lensa Makro

Harga lensa makro biasanya mahal (kecuali Sony 30/2.8 Macro), sehingga saya tidak menyarankan pembelian lensa makro di awal. Lebih baik gunakan alat-alat tambahan saja dulu, seperti Macro Extention Tube atau filter makro atau reversal ring :)

Sayangnya saya sedang tidak ada waktu untuk menjelaskan kegunaan dan kelebihan/kurangan masing-masing alat di atas :(

Demikian dulu artikel kali ini, semoga berguna dan keep shooting! :)